DALAM KOMA
Gara-Gara Reformasi
Tangisan bayi yang keras tak bisa dibendung kala itu, karena
baru saja terlahir di dunia yang panas ini. Panas suasana kota, pun panas
suasana jiwa. Apalah daya seorang perempuan yang sengaja mengadu nasib ke suatu
kota besar yang tidak punya perasaan. Perempuan dari desa. Desa permai yang
meninggalkan banyak cerita bahagia bagi sebagian besar anak-anak.
Perempuan yang pernah tenggelam di sungai berarus deras di
desa tetangga pada tahun 70an kini berjuang melawan kegusaran jiwa di ibu kota.
“Karti, saya dengan sangat terpaksa memberhentikan kamu
sebagai pegawai disini. Pertimbangan saya mungkin kurang matang, tapi ini
karena kondisi yang mendesak. Suasana di kota semakin menjadi, meskipun saya
dekat dengan orang pribumi.”
Suasana kegelisahan harum terasa sore itu di ruang tamu sang
majikan. Atasan perempuan itu bermaksud memberhentikan dia sebagai karyawan di toko
mebelnya karena kondisi ibu kota menuntut waktu itu.
“Tidak apa, saya bisa pulang ke kampung halaman koh”
Percakapan beberapa minggu lalu, sebelum bayi yang dikandung
perempuan itu terlahir di dunia yang gersang ini, yang alur hidupnya akan
terkisah dalam tulisan ini. Lahir diantara kekacauan dan semakin menipisnya
lapisan kasih. Dia adalah Zyahwan.
“Mas, saya dapat kabar dari desa kalau ibu akan ke Jakarta
menjemput kita untuk pulang ke desa. Menunggu keadaan Jakarta tidak kacau lagi”
beritahu perempuan itu kepada sang suami
“Apakah sudah dipertimbangkan dengan matang. Zyahwan kan masih
baru berumur 30 hari, mukanya saja masih merah” Jawab suami dengan penuh
keraguan
Suasana malam itu ditutup dengan tidak adanya kata sepakat,
atau bahkan tidak ada keputusan. Suami pun tidak bisa berbuat banyak karena
hanya seorang serabutan, mungkin bisa dikatakan pengangguran.
Beberapa hari kemudian ibu dari perempuan itu tiba di
Jakarta bersama pamannya. Maksud dari kedatangannya tidak ada maksud lain yaitu
membawa pulang keluarga kecil itu ke kampung halaman. Jakarta yang semakin
runyam, suami yang tak berpenghasilan, ditambah pekerjaan perempuan itu yang
sudah tanggal, sisa tabungan yang semakin menipis memperkuan keputusan untuk
memulangkan keluarga kecil itu ke kampung halaman. Namun yang lebih penting
dari itu semua adalah mengamankan Zyahwan dari debu kisruh ibu kota.
Beberapa hari kemudian mereka meninggalkan Jakarta,
meninggalkan kontrakan kecil dengan barang-barang yang masih utuh di dalamnya
dengan harapan akan kembali. Meninggalkan ibu kota, berlayar menuju desa menunggangi
kereta selama satu hari lamanya.
Desa bekas ibu kota Kerajaan Majapahit memang sangat subur,
indah, permai. Suasana yang sejuk didampingi mentari yang hangat, hamparan sawah
yang luas, sungai yang mengalir jernih, suara kendaraan yang sangat jarang kala
itu, Namanya Desa Karanglu. Di sini Zyahwan akan tumbuh besar, mengenal kawan,
mengenal harapan, cinta, kasih, dan sejati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar